Senin, 03 Juni 2013


 .saat-saat terindah dalam hidupku adl menghabiskan sepanjang hari bersama kamu..
.kamu iank mengajarkan aku menghargai setiap detik,menit,jam,hari,bulan dan tahun dalam hidup ini..
.kamu mengajarkan aku menjadi cewe kuat iank tak mudah menyerah..
.bahkan di saat aku rapuh dan tak kuat lagi,kamu dapat menjadi semangat dalam stiap nafas hidupku..
.kamu mampu menembus stiap titik gelap dan mengubah semua dengan sisi terang dalam diriku..
.kamu menjadi kekuatan dan inspirasi dalam penjalanan kehidupanku..

.stiap waktu iank ku jalani bersamamu membuatku merasa begitu berarti..
.kamu mampu membrikan rasa iank dulu pernah hilang dari hidupku..
.rasa iank akhir.ny dapat meyakinkan hatiku,kamu begitu berarti..
.rasa iank selalu ingin berada di dekatmu..
.rasa tak ingin kehilanganmu..
.rasa ingin selalu memiliki hatimu..

.tapi kini semua tak dapat kurasakan lagi..
.entah apa iank telah terjadi,,
.semua.ny telah mengubah sisi dalam dirimu,,
.bahkan aku tak dapat mengenalimu lagi,,

.salahkah jika kini aku begitu merindukanmu,,
.merindukan saat-saat dimana kamu dan aku melewati stiap waktu bersama,,
.saat-saat di mana kamu dapat menjadi kekuatan di saat aku rapuh,,
.di saat aku merasa sedih dan tak tau arah tujuan hidupku,,


.kamu iank mengajarkan aku stiap hal dalam hidup ini,,
.kamu datang tanpa ku minta,menawarkan diri menjadi  inspirasi dan semangat  buatku,,
.tapi kenapa di saat rasa selalu ingin bersama dan tak ingin kehilanganmu,kamu menorehkan luka iank begitu dalam di lubuk hatiku..
.mengoreskan noda iank tak dapat terhapus..
.membuatku merasa begitu tak berati di dekatmu..
.membuatku menjadi manusia konyol iank tak berguna..
.kamu iank mengangkatku setinggi langit dan kamu pula iank penjatuhkan ku begitu dalam..

.sakit dan luka iank kamu torehkan takkan begitu saja dalam terobati..
.apa iank telah terjadi padamu,sungguh tak dapat ku mengerti karena aku hanya sebatas orang konyol iank begitu berharap kamu kan kembali seperti dulu..
.aku hanya manusia bodoh iank begitu menyayangi kamu..

.aku tau kita berbeda,,
.sangatlah jauh berbeda,,
.kamu juga sring mengatakan kalimat itu..
.tapi tak bisakah perbedaan itu menjadi kekuataan untuk kita,bukan mengangap.ny sebagai penghalang,,

.aku takkan berubah,sdkitpun tak akan..
aku akan tetap di sini..
.menunggu,menunggu dan menunggu,,
.hingga waktu.ny kan tiba

curahan hati kecilku" Ketakutanku, Apakah mungkin menjadi ketakutanmu juga ?

kulayangkan ingatanku pada hari-hari yang telah kita lewati. pada pertemuan pertama kita yang membuat dadaku merasakan getaran yang luar biasa, yang membuatku merasa nyaman bersamamu. pada hari-hari baru yang mengoreskan senyum di bibirku, perasaan bahagia yang sulit untuk ku gambarkan saat ini. tentang mimpi-mimpi indah yang ingin ku wujudkan bersamamu..

melihat dan menunggumu sembahyang bukanlah hal pertama. ini sudah kulakukan berulang-ulang kali. seperti biasa, sambil menunggumu selesai menemui Tuhan aku senantiasa memperhatikan dan menatapmu dengan tatapan kagum. kamu duduk bersilah mengenakan baju rapi lengkap bersama kamen dan udeng yang kamu kenakan di atas kepalamu membuatmu terlihat begitu tampan. selalu terbayangkan dalam benak ini, ingin rasanya bisa duduk bersama untuk datang kepada Tuhan. mungkinkah itu bisa terjadi ?
aku sadar Tuhan memang satu hanya saja kita menyebut Dia dengan sebutan yang berbeda. tapi bisakah kita di terima menjadi sesuatu yang layak. bisakah semua orang memandang ini sebagai sesuatu yang murni dari hati ?

Aku tak tahu apakah perjalanan kita butuh ujung dan akhir. Langkah kita terus lurus dan maju, begitu banyak lika-liku namun semua mampu kita lewati, tapi entah mengapa pikiranku seringkali mengharu biru. Aku mencoba mencari sebab dari ketakutanku, kusentuh kalung salib yang menggantung di leherku. Kujamah tubuh Yesus yang sedang kesakitan oleh paku di tangan dan kakiNya, oleh mahkota duri yang teremat di kepalaNya. Dia sudah begitu mengasihiku, apakah aku harus menyakiti Dia dengan hubungan kita yang jauh dari kata biasa?

Terlintas sebuah ayat yang pernah kubaca, Terang tak dapat bersatu dengan gelap. Aku tak tahu siapakah yang bisa disebut "Terang" dan siapakah yang bisa disebut "Gelap"? Aku bertanya-tanya dan terus bertanya. Tiba-tiba aku ketakutan, seperti dikejar-kejar sesuatu yang memaksaku untuk menjauhimu. Mungkinkah aku harus pergi? Sementara perasaan ini sudah mulai nyaman dengan yang kita jalani.

Sayang, aku duduk di sini sendiri, dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan sendiri. Aku takut jika perpisahan pada akhirnya menjadi pilihan kita. Ketakutanku semakin lengkap mengetahui kamu beribadah di tempat yang berbeda denganku. Apakah kita melakukan sebuah kesalahan dan dosa terindah?