curahan hati kecilku" Ketakutanku, Apakah mungkin menjadi ketakutanmu juga ?
kulayangkan ingatanku pada hari-hari yang telah kita lewati. pada
pertemuan pertama kita yang membuat dadaku merasakan getaran yang luar
biasa, yang membuatku merasa nyaman bersamamu. pada hari-hari baru yang
mengoreskan senyum di bibirku, perasaan bahagia yang sulit untuk ku
gambarkan saat ini. tentang mimpi-mimpi indah yang ingin ku wujudkan bersamamu..
melihat dan menunggumu sembahyang bukanlah hal pertama. ini sudah
kulakukan berulang-ulang kali. seperti biasa, sambil menunggumu selesai
menemui Tuhan aku senantiasa memperhatikan dan menatapmu dengan tatapan
kagum. kamu duduk bersilah mengenakan baju rapi lengkap bersama kamen
dan udeng yang kamu kenakan di atas kepalamu membuatmu terlihat begitu
tampan. selalu terbayangkan dalam benak ini, ingin rasanya bisa duduk
bersama untuk datang kepada Tuhan. mungkinkah itu bisa terjadi ?
aku sadar Tuhan memang satu hanya saja kita menyebut Dia dengan sebutan
yang berbeda. tapi bisakah kita di terima menjadi sesuatu yang layak.
bisakah semua orang memandang ini sebagai sesuatu yang murni dari hati ?
Aku tak tahu apakah perjalanan kita butuh ujung dan akhir. Langkah kita
terus lurus dan maju, begitu banyak lika-liku namun semua mampu kita
lewati, tapi entah mengapa pikiranku seringkali mengharu biru. Aku
mencoba mencari sebab dari ketakutanku, kusentuh kalung salib yang
menggantung di leherku. Kujamah tubuh Yesus yang sedang kesakitan oleh
paku di tangan dan kakiNya, oleh mahkota duri yang teremat di kepalaNya.
Dia sudah begitu mengasihiku, apakah aku harus menyakiti Dia dengan
hubungan kita yang jauh dari kata biasa?
Terlintas sebuah ayat
yang pernah kubaca, Terang tak dapat bersatu dengan gelap. Aku tak tahu
siapakah yang bisa disebut "Terang" dan siapakah yang bisa disebut
"Gelap"? Aku bertanya-tanya dan terus bertanya. Tiba-tiba aku ketakutan,
seperti dikejar-kejar sesuatu yang memaksaku untuk menjauhimu.
Mungkinkah aku harus pergi? Sementara perasaan ini sudah mulai nyaman
dengan yang kita jalani.
Sayang, aku duduk di sini sendiri,
dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan sendiri. Aku takut jika
perpisahan pada akhirnya menjadi pilihan kita. Ketakutanku semakin
lengkap mengetahui kamu beribadah di tempat yang berbeda denganku.
Apakah kita melakukan sebuah kesalahan dan dosa terindah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar